February 13, 2012

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Secarik Kisah Untuk Dunia

 
KEYWORD : Palung, Salju, Rasi, Pohon Pisang, Polkadot, Jelantah

Salam kenal! Namaku Made Yoso. Senang bisa berkenalan. Aku harap melalui secarik kertas ini, aku mampu mengabadikan kisah kami,  perasaanku kepadanya dan semua kenangan yang pernah kami rangkai bersama. Aku sangat bahagia bisa membagikan kisahku ini kepada kalian.
Aku berasal dari Miracleland. Buka peta kalian, dengan koordinat 0*LU-0*LS dan 120*BT-121*BB kalian akan menemukan sebuah titik kecil yang mungkin hanya bisa dilihat melalui kaca pembesar. Ya, itulah pulau kami. Sebuah pulau kecil yang indah dan penuh dengan keajaiban. Meskipun berada tepat di perlintasan garis khatulistiwa, tapi pulau ini diselimuti oleh salju yang abadi karena letaknya yang berada pada ketinggian 5000 M di atas pemukaan laut. Tak hanya itu, kami juga memiliki sebuah palung yang indah tepat di tengah pulau. Ritual dan acara adat sering kami lakukan di sini. Palung ini sering kami sebut dengan prinadevarul (palung kebenaran). Karena menurut kepercayaan leluhur, di dasar palung ini tersimpan semua kebenaran yang sedang kita cari.
Aku berasal dari Suku Boujo. Sebuah suku yang terkenal karena kecerdasannya, yang bisa dibilang lebih dibanding suku lain. Ilmu pengetahuan merupakan harta yang paling berharga bagi kami. Suku ini terdiri dari sepuluh kepala keluarga, dengan satu orang sebagai ketua sukunya. Ketua suku yang dipilih tak lain adalah laki-laki tertua di suku ini, yang tentunya memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan di segala sisi. Dan ketua suku ini tidak akan pernah diganti sebelum ia meninggal dunia.  Hubungan kami dengan suku lainnya pun sangat baik. Ada 5 suku yang mendiami pulau ini. Kami sering berbagi dan mengadakan acara bersama. Dan tidak sedikit di antara kami yang menjalin cinta antarsuku.
Rara Winry. Dia adalah gadis yang telah mengubah hari-hari ku. Gadis polos dari Suku Goddes ini berhasil meyakinkan ku untuk mempercayai  bahwa keajaiban itu ada. Dia bukan gadis tercantik di sukunya. Tapi hanya dia yang mampu membuat hari-hari ku menjadi lebih indah. Dia juga bukan lah gadis yang mudah untuk bergaul dengan orang lain. Tapi, dia mampu memperkenalkan cinta kepada ku. Pancaran cahaya matanya yang penuh harapan, bagaikan sekumpulan bintang yang membentuk sebuah rasi indah di langit malam.  Lengkungan indah tepat di kedua pipinya yang membuat senyumnya amat mempesona hingga mampu membangkitkan  semangat jiwa ku.  
***
Aku masih sangat ingat saat pertama kali aku bertemu Rara. ­­­­­­­­­­­­Pagi itu cuaca cukup hangat. Sehingga aku tak perlu menggunakan mantel bulu beruang ku yang selalu aku gunakan untuk pergi ke sekolah. Perjalanan ku menuju sekolah dihiasi oleh beberapa pohon yang cukup besar. Walaupun tanah kami tertutupi salju, intensitas cahaya matahari masih bisa dikatakan cukup untuk menumbuhkan pohon-pohon besar di sini. Jalan-jalan yang berbukit juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk mencari ilmu.
Jarak sekolah dari rumahku sekitar 300 M, tidak begitu jauh memang. Biasanya aku berjalan kaki untuk menuju sekolah. Berjalan kaki bukanlah satu-satunya transportasi di pulai ini. Beberapa suku menggunakan gajah untuk mempermudah mereka dalam bepergian. Mereka adalah Suku Anemalist, suku yang hidup sangat serasi dengan hewan. Bagi mereka, hewan merupakan titipan dari Tuhan yang melindungi suku mereka.
Seperti biasa, setelah semua persiapanku selesai, aku berpamitan dengan ibu ku. Memohon ridho dan restu untuk ilmu yang akan aku dapat hari ini. Aku melangkah keluar rumah menuju rumah Kepala Suku. Di sini pun aku memohon ridho kepada beliau. Ku lanjutkan langkah kaki ku. Perjalanan menuju sekolah lebih sulit dibandingkan ketika pulang. Sekolah yang tepat berada di puncak bukit membuat perjalanan pergi sekolah menanjak sepanjang jalan. Sedangkan ketika pulang, jalanan yang menurun jauh lebih ringan.
Kira-kira sekitar 100 M lagi tiba di sekolah. Pandangan ku teralihkan oleh seorang gadis. Gadis berambut putih yang sedang asyik mengulik-ulik tanah. Ya, dia adalah Rara Winry. Rambutnya yang putih sangat serasi dengan salju yang berada di sekitarnya. Dan ini merupakan ciri khas yang dimiliki para Suku Goddes.  Saat itu dia sedang berusaha untuk menanam sebuah pohon pisang. Benar, pohon pisang! Dapat kalian bayangkan, sangat mustahil untuk menanam pohon pisang di tanah yang bersalju ini.
“Kamu tidak sedang mencoba menanam pohon pisang itu bukan?” Aku berusaha mencari tahu.
Ah...” Terlihat dia sangat kaget dengan kedatanganku. Masih sangat jelas dalam ingatanku wajah kagetnya yang polos itu, mulutnya terbuka untuk beberapa saat, seolah bingung apa yang harus ia katakan.
Hmm... anu...,” gumamnya sambil mencoba menyembunyikan pohon pisang itu di belakang tubuhnya yang sedang menjongkok. Tapi itu percuma. Tubuhnya yang kecil tidak dapat menutupi seluruh bagian dari pohon pisang tersebut. Memangnya kenapa jika aku ingin menanamnya?” ucapnya dengan sedikit melotot ke arah ku, sehingga aku dapat dengan jelas melihat mata indah kebiruannya. Tapi aku hanya diam dan meninggalkannya begitu saja saat itu.
Setiap hari, saat pergi sekolah, aku selalu melihatnya merawat pohon itu. Seolah dia tidak pernah meniggalkannya walau sedetik. Hingga rasa keingintahuan ku pun telah sampai pada batasnya. Dengan mimik wajah yang sedikit angkuh, aku berusaha mencari tahu, “Hey, kenapa kamu menanam pohon ini?”
“Karena aku ingin menjadi seperti pohon pisang,” jawabnya tenang memperlihatkan dua buah lengkungan di pipinya.
“Menjadi seperti pohon pisang? Aneh!”
Siapa yang aneh?!” Dia mengerutkan dahinya.
Ya kamu. Siapa lagi?!” aku menjawab dengan nada yang sedikit merendahkan. Kamu tidak tahu, mustahil untuk menumbuhkan pohon pisang di tanah bersalju seperti ini. Ajaib jika kamu bisa.”
Dengan sedikit memicingkan mata, dia menjawab, Akan aku buktikan keajaiban itu, karena pohon pisang merupakan simbol dari perjuangan hidup. Pohon pisang itu kuat, walau kehidupannya singkat. Dia tidak akan mati sebelum dia berbuah. Kehadirannya di dunia  hanya ingin memberikan manfaat melalui buahnya. Dia juga tidak akan mati sebelum para penerusnya hadir. Mereka adalah tunas-tunas baru yang siap untuk meneruskan perjuangannya. Karena itu, aku yakin pohon pisang ini pasti tumbuh walaupun dia harus berjuang dengan keras. Dan aku akan merawatnya dengan baik.”
Sejak saat itu, sesekali aku sengaja datang untuk mengecek pohon pisang tersebut. Ajaib! Aku dapat melihat rona-rona kehidupan terus memancar dari pohon pisangnya. Semakin lama, semakin besar dan sehat. Diam-diam aku meneyelidiki apa yang sebenarnya menghidupkan pohon pisang itu. Otak ku terus ku paksa untuk berputar agar bisa menemukan alasan logis di balik semua ini. Namun percuma, semua teori yang penah aku dapatkan tidak dapat membuktikannya.
“Kamu percaya kan sekarang?” Terdengar suara mengagetkanku dari arah belakang. Ia muncul sambil tersenyum. Seolah dia telah berhasil mengalahkanku.
“Ya. Bagaimana bisa? Semua ini mustahil,” jawab ku masih sedikit tidak percaya dengan apa yang telah aku lihat.
“Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Jika kamu menganggap semuanya bisa dihitung dengan ilmu pengetahuan, kamu salah!”
“Lalu apa yang dapat menghidupkan pohon ini?”
“Keajaiban. Seperti kata mu waktu itu.”
Sambil menggelengkan kepala, aku menjawab, “Aku tidak percaya. Tidak ada yang namanya keajaiban di dunia ini!”
“Lalu yang kamu lihat ini apa?” Dia menunjuk pohon pisang yang berada di depannya. “Terkadang keangkuhanlah yang menghalangi kita untuk melihat keajaiban. Percayalah, selama kamu tekun, yakin dan tulus, kamu pasti akan menemukan keajaiban bersamamu.”
Aku terdiam. Mulai saat itulah aku berusaha untuk mempercayai kalau keajaiban itu benar adanya. Yah, sebelumnya aku tidak pernah percaya dengan keajaiban. Suku kami yang tergolong cerdas selalu mencari alasan logis untuk setiap hal yang kami temui.
Dia berhasil mengalahkanku. Dia berhasil menakklukanku. Dan dia juga berhasil membuatku ’tertarik’. Setiap saat aku selalu merindukannya. Bertanya-tanya keajaiban apalagi yang akan dia bawa kepadaku. Apakah ini namanya cinta? Entahlah.
Waktu terus berlalu. Tidak ada seorang pun yang pernah menyangka. Kebahagiaan yang selalu menyelimuti kami harus berubah menjadi ketakutan. Sebuah wabah menyerang pulau kami. Hampir semua penduduk pulau terkena wabah ini. Kulit-kulit penduduk mengeras bagaikan tanah yang kering. Tubuh mereka menjadi kaku. Jika mereka memaksakan untuk bergerak maka badannya akan hancur seperti debu. Bercak hitam polkadot pun menghiasi setiap inchi tubuh mereka. Berbaring merupakan satu-satunya cara untuk menghambat kematian. Semua suku berupaya untuk menemukan obat dan jalan keluar dari wabah ini. 
“Kutukan!” Mungkin itulah kata-kata yang tergambar bagi Suku Goddes. Suku ini memang selalu mengaitkan semuanya dengan hal yang berbau mistis. Menurut mereka, Sang Natom (penguasa pulau) sedang kesepian menjaga pulau ini. Dan semua wabah ini merupakan bentuk teguran darinya.  Satu-satunya cara menghentikannya adalah memberikan dia seorang gadis untuk menemaninya di dasar prinadevarul.
Aku bersama Suku Boujo berusaha menjelaskan kepada mereka kalau cara ini salah. Kami juga berusaha meyakinkan mereka kalau kami bisa menemukan obatnya. Lima hari. Itulah waktu yang mereka berikan. Jika kami tidak kembali dengan membawa obatnya dalam 5 hari, salah satu gadis di sukunya akan mereka korbankan. Dan Rara sudah siap untuk itu. Karena dia yakin, aku dan suku ku dapat menemukan obatnya.
“Aku tidak apa-apa. Tidak akan pernah ada pengorbanan itu. Tekun, yakin dan tulus. Pasti keajaiban akan datang kepadamu. Aku percaya kamu dan suku mu akan datang 5 hari lagi dengan membawa obatnya.” Itulah kata-kata terakhir dan paling bodoh yang pernah aku dengar darinya.
Tidak ada waktu istirahat. Percobaan dan penelitian terus kami lakukan. Tentu saja 5 hari adalah waktu yang sangat singkat bagi kami. Namun, mereka pun tidak punya banyak pilihan. Mereka tidak ingin lebih banyak korban berjatuhan untuk menunggu ketidakpastian dari kami.  
Semua obat dan ramuan yang kami teliti belum juga menemukan harapan. Mulai dari ramuan herbal sampai ramuan  hewani kami coba, namun tetap saja nihil. Waktu kami sudah tidak banyak lagi. Otak ku sudah sangat lelah untuk berfikir. Teman-teman ku pun sudah banyak yang berguguran. Di mana keajaiban itu? Di mana keajaiban yang katanya pasti akan datang kepadaku?
***
Akhirnya semua yang kami lakukan sia-sia. Saat aku menulis surat ini, mungkin aku lah orang terakhir yang masih bertahan di Miracleland. Dengan memanfaat kan minyak jelantah aku berusaha menjaga tubuh ku agar tetap basah. Dengan cara seperti itulah aku dapat bertahan hidup sejauh ini. Namun persediaan minyak jelantah ku sudah habis. Separuh tubuh ku sudah mulai mengeras sekarang. Bercak-bercak hitam polkadot pun sudah hampir menutupi semua tubuh ku.
Dengan sisa-sisa nyawaku yang masih ada, aku berusaha menuliskan kisah ini di kertas. Walaupun kami nanti hanya tinggal sejarah, aku harap kisah ini bisa tetap abadi bersama dengan arus laut yang akan membawanya.
 “Aku Benci Dia!” Itulah tiga kata terakhir yang aku sisakan untuknya.
               
                

27 comments:

  1. cerita yang sangat bagus....
    semoga bisa memenangkan lombanya.

    ReplyDelete
  2. keren nih cerita nya..
    sangat menggambarkan keadaan daerah yang sangat indah.

    ReplyDelete
  3. ending yang sangat bagus.
    walawpun tidak berakhir bahagia.

    ReplyDelete
  4. cerita yang sangat menarik..
    saya suka membaca nya.

    ReplyDelete
  5. artikelnya bagus ni, i like,,,

    ReplyDelete
  6. artikelnya sangat bagus gan..

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. Kisah fiksinya bagus sekali.

    ReplyDelete
  9. waahhh...hebat2 ya hehe

    ReplyDelete
  10. artikel yang sangat bagus.... mantap banget gan..

    ReplyDelete
  11. wahh.. ada lomba ya .. sukses selalu ya ..

    ReplyDelete
  12. informasi yang berguna buat para bloger yang kurang pisik tuh

    ReplyDelete
  13. terimakasih banyak informasinya, ini bermanfaat banget bagi saya

    ReplyDelete
  14. Cerita ini sangat inspiratif buat generasi muda

    ReplyDelete

Jangan berkomentar spam.... !